Senin, 25 April 2011

Lulusan IT Mengecewakan. Siapa yang Salah??

Seperti biasanya, sebelum berangkat kuliah aku terkadang menyempatkan diri dulu untuk surfing di dunia virtual yang tanpa batas ini.  Pas googling, aku gak sengaja menemukan artikel yang menurutku sangat bagus dan pantas untuk di-repost di blog Q ini dan kalian kayaknya perlu dech baca nih artikel.

Penasaran gimana artikel tersebut??
Baca aja nih!!

=============================================================
Beberapa hari yang lalu, detikINET merilis berita berjudul “Lulusan TI Banyak yang Mengecewakan“. Berikut potongan beritanya:

“Banyak pelamar tidak seperti yang kita harapkan. Kita sering kecewa. IPK (indeks prestasi)-nya tinggi, bagus secara kualifikasi. Tapi saat ditanya hal yang dasar, yang menurut kami mereka mengusainya, mereka tidak bisa. Dan banyak yang seperti ini” – Ahmad Bagus Santoso, Human Resource Departement PT Indocyber Global Teknologi kepada detikINET di sela acara JobsDB Career Expo 2010 di Sasana Budaya Ganesha, Tamansari, Bandung, Sabtu (16/1/2010)*

Tepat di hari berita tersebut dirilis, saya mendengarkan perkataan teman sekelas di kampus, yang berkaitan dengan berita di atas.
Berawal dari seorang dosen yang kelasnya membosankan. Menurut mahasiswa, Ibu dosen ini kurang aktif dalam proses belajar mengajar. Sepanjang jam perkuliahan selalu duduk di kursi, materi yang dijelaskan dalam bentuk dokumen (.doc) bukan presentasi (.ppt), tidak memanfaatkan white board, dan menjelaskan materi hanya dengan membaca dokumen tadi. “Mahasiswa juga bisa kalau cuma baca, tinggal dikasih materinya”.

Ibu dosen ini memang mengadakan sesi tanya jawab di setiap sesi kuliahnya, tapi respon mahasiswa selalu nihil. Pengalaman sendiri, melihat Ibu dosen yang malas bergerak (selalu nempel di kursi), saya juga malas mengikuti kuliahnya. Membosankan.

Mungkin karena penasaran dengan profile Ibu Dosen tadi, ada teman sekelas yang ‘menguntit’ rekam jejak profesi kedosenannya. Pada website kampus, tertera bahwa si Ibu juga membawakan mata kuliah lain. Penguntitan berlanjut. Tertera pada syllabus, materi kuliah Ibu Dosen hanya menyangkut jenis dan manfaat tools yang digunakan terkait mata kuliah yang dibawakan. Tidak ada materi bagaimana menciptakan objek A atau B, padahal seharusnya mata kuliah tersebut menghasilkan skill dalam bidang TI. “Kok bisa jadi dosen, sih?”.

Awal dari perbincangan teman tadi adalah kejadian pada kelas sebelumnya, kelas Pemograman Berbasis Objek. Materi yang disampaikan adalah Swing, tampilan GUI di Java. Pak Dosennya memberikan latihan praktikum membuat program Menghitung Gaji Dosen, dimana terdapat dua radio button untuk memilih status dosen, dosen tetap atau dosen honor. Berhubung editor-nya menggunakan JCreator, maka pendefinisian (termasuk pengaturan layout tampilan) komponen dilakukan dengan kode program, tidak bisa drag and drop. Kemudian ada teman yang bertanya bagaimana pengaturan layout radio button tersebut, agar tampilannya sejajar dengan textbox nama dan jumlah sks yang berada di atas dan bawah kedua radio button tersebut. Singkatnya, Pak Dosen tidak bisa memberikan jawaban. Tapi, Pak Dosen meminta mahasiswa mengumpulkan latihan praktikum tersebut dan berpengaruh pada komponen nilai tugas. “Ya, Dosen kacau”.
Saya miris sendiri mengalami kondisi seperti ini. Ibu dosen tampak tidak berbakat/berminat. Pak Dosen menuntut suatu keahlian yang Pak Dosen benar-benar tidak bisa. Sekali pun Pak Dosen tidak bisa, seharusnya beliau punya jawaban bagaimana mahasiswa bisa menemukan jawaban, bukan diam dan cuma berkata ‘gimana ya?!’. Masalahnya dimana?

Mengenai Ibu Dosen yang tampak kurang berminat, itu soft skill yang harusnya si Ibu kuasai. Kalau Pak Dosen, saya kira lebih jelas: Pak Dosen tidak punya skill yang cukup untuk bidang yang dibawahinya. Masalah sepele, cuma pengaturan layout. Lewat memanfaatkan google pasti ketemu solusinya. Tapi, koneksi internet di lab. komputer tersebut pun secara default tidak terhubung. Koneksi internetnya terhubung jika hanya ada request dari dosen.

Sekarang cukup jelas mengapa banyak lulusan TI yang mengecewakan. Menurut saya, kemampuan dosen dan fasilitas harus menjadi perhatian utama. Kurikulum akan menjadi perhatian selanjutnya, menyesuaikan dengan kebutuhan dunia kerja baik lokal maupun global. Sekarang yang saya bingungkan, apakah Departemen Pendidikan kita menyadari hal seperti ini? Mudah-mudahan saja.

Sepertinya tidak hanya itu saja penyebab banyaknya lulusan TI yang mengecewakan, ada yang lain?
 

=============================================================

Sebelumnya aku pernah bertanya (ibaratnya curhat) pada beberapa master IT  dan seorang teman yg sekarang lg kuliah S3 di Taiwan (teman Facebook) dan pastinya tidak ketinggalan dosen pemrogaraman favoritku mengenai hal ini. Mereka mengatakan bahwa hal itu hampir terjadi di semua perguruan tinggi dan sebagai mahasiswa, kita lah yang harus dituntut utk BERUSAHA SENDIRI (seperti ikut di komunitas) serta jgn berharap banyak terhadap dosen. 

Ya, Aku akui sich. Memang benar apa yang mereka katakan. Sangat-sangat benar malahan.
Tapi posisinya sekarang kan kita ini kuliah. Kita menuntut ilmu di suatu lembaga pendidikan. Harusnya di-didik dan dibimbing. Kalau kuliah hanya seperti ini (dosennya terkadang tidak menguasai materi yang diajarkannya & jarang masuk), aku merasa kita kuliah hanya untuk mencari gelar dan ijazah aja deh dan ilmu IT kita, kita dapatkan secara otodidag aja.

Gimana dengan kalian??

13 komentar:

alisyahsamosir mengatakan...

Jawaban yang menyedihkan. Namanya pengajar ya harus mengajar!

Adittya Regas mengatakan...

wahh jgn bilag kuliah itu mmbosankan donk mas, kan saya nanti jug mau kuliah...

Zuliansyah mengatakan...

@Alisyahsamosor: Inilah keadaan dan kenyataan skrg, sobat. Sungguh sangat disayangkan sich, tp apa blh buat. Kita pun sbgai Mahasiswa sangat sulit utk merubahnya. Smga aja para pendidik di masa depan dan klw kita jg jd pendidik (Amiiiin) akan menjadi pendidik yg jauh lebih baik lg.

@Adittya: Aku gak ada bilang kuliah itu membosankan lho. Yg aku bahas di sini adalah keadaan pendidikan skrg yg sangat menyedihkan, khususnya di bidang TI.
Kuliah itu tdk membosankan kok, malah sangat mengasyikan dan banyak hal baru (bermanfaat) yang akan sobat dapatkan. Asalkan segala hal dalam perkuliahan itu aktif.
Satu Saran dari Q, klw km mau menjd seorg pendidik dan seorg intelek, baiknya km masuk Fakultas Keguruan aja.

Adittya Regas mengatakan...

apa bisa mas anak ingusan gila pnulis blog gila ini bisa jadi guru? kaya bumi dan langit -____-!

Zuliansyah mengatakan...

Wah, knp lgsg berkata begitu??
If other people can. So, we certainly can, too.
Semangat donk!!

muhaimin mengatakan...

Menurut waktu penunjukan dosen untuk mata kuliah tertentu jika gak sanggup bialang saja terus terang, kalau begini yang dirugikan mahasiswa. Kalaupun terpaksa dosen harus kerja ektra keras untuk mata kuliah tersebut agar bisa. dosen wajib lebih pintar dari mahasiswa. jika dosennya pasif pokoknya mengajar ya capek deh . . . , moga selalu sukses

Arief Rivai mengatakan...

Kalau ada dosen kayak gitu, langsung aja saya laporkan ke pihak jurusan. Suruh ganti dengan dosen lain.. Memang benar, kita ga bisa terus kayak nak keci, minta di suapin. Kita dituntut lebih aktif, its OK. Tapi kalau dosennya ga nguasain ilmunya, itu masalahnya lain. Itu menurut saya yah sob.

Zuliansyah mengatakan...

@Mr. Muhamaimin: Saya juga bingung pak, kok bisa sich dosen yang kayaknya tdk bisa malah dengan mudah mengambil mata kuliah yg ditunjuk utknya. Eh, ketika perkuliahan dimulai dan berjalan, seolah2 seperti tidak bertanggung jawab gitu. Memang benar apa yg bapak katakan, setiap pendidik harus lebih pintar dari anak didiknya. Tp beginilah keadaan saat ini. Sepertinya memang harus bersabar aja dan tetap semangat serta harus lebih rajin sendiri tanpa berharap lebih terhadap mereka yg tidak bertanggung jawab itu demi masa depan yg lebih baik.

@Sobat Arief: Itu sih ide yg bagus sob. Tapi masalahnya, sebagai mahasiswa kan, keseringan nasibnya berada di tangan dosen-dosen. Seperti contoh masalah nilai atau saat tugas akhir. Kayaknya, kita memang harus mengikuti arus mereka dan gak boleh melawannya. Memang sich kita punya hak, tp itulah. Hufh, sangat tipis harapan apabila hanya mahasiswa yg bertindak, kecuali dibantu lgsg oleh pihak terkait lainnya.

btw, cerita kita panjang juga ya.
heheheheeee

dha mengatakan...

kemandirian belajar akan menjadikan anda lebih maju daripada menghandalkan saja..:> ok tetap jadi pejuang yg slalu + akan ilmu

mutualbehavior mengatakan...

ya setuju dengan dha. btw, nice share. www.kuliahpemrograman.co.cc sekarang adalah makkul.com. keep blogging!

mutualbehavior mengatakan...

nice share. www.kuliahpemrograman.co.cc sekarang adalah Makkul.com. keep blogging!

Meiki Kurniawan mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Meiki Kurniawan mengatakan...

waaah,, ini memang kebanyakan dosen seperti ini mungkin yah ?
kok samaaa gitu beritanya dimana2


www.meikimu.com

Posting Komentar